Rabu, 20 Maret 2013

hidup

0 komentar
Untuk apa manusia hidup?
Banyak jawaban bisa hadir dari pertanyaan ini, tergantung pemikiran masing-masing orang. Sekali lagi prioritas adalah kunci penting untuk memantapkan tujuan.
Seperti yang diucapkan ustad Felix, bahwa manusia itu seperti sebuah handphone, dia diciptakan dan mempunyai buku petunjuk dalam pemakaiannya. Bisa disimpulkan bahwa selama kita hidup kita tidak bisa lepas dari buku petunjuk yang memang dibuat oleh Pencipta kita. Apa itu? Tentu saja jawabannya Al-Quranul karim.
Dalam surat Ali-Imran:104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar . merekalah orang-orang yang beruntung”.
 So,Semangat berbuat!
Sekecil apapun itu, lakukanlah dan berharaplah untuk ridho Allah...Innamal a'malu binniyat...

Wassalam

Kamis, 14 Maret 2013

Now

0 komentar
Malam inni,,,serasa terdampar di lautan waktu yg terus saja berderu, membawa kapal mungilku ke tempat-tempat yang misteri. Banyak hal baru, teman baru,suasana baru.
Kadang rindu saat-saat maba, yang hanya duduk manis belajar dan memikirkan bagaimana besok akan jadi hari yang menyenangkan.
Tapi sekarang?
Sekarang adalah bagaimana tentang mengatur diri sendiri begitu juga orang lain, bagaimana bisa membuat diri lebih baik begitu juga orang lain.
Benar memang makin kedepan kita makin dituntut banyak oleh semuanya, orang tua, teman, dosen, dan lainnya.
Kadang aku merasa melihat suatu gunung batu menjulang tinggi di depan mata.
Bagaimana memanjatnya, bagaimana harus memulai untuk bersiap?

Ah, terlalu lama hanya untuk berpikir.
Sekarang jalani saja apa yang di depan mata.
Karena kenyataan akan menertawakanmu jika kau lari.
Tantanglah rintangan hingga ia bosan mengejarmu!,teriakku kadang pada diri sendiri.

Aku mulai bisa tersenyum ketika banyak pekerjaan datang. Ya, mungkin ini cara Allah tempa aku untuk jadi lebih baik.
Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal tidak penting.
Syukurlah. Thanks God.
Semoga semuanya bisa terselesaikan dengan baik, dan membuat semua bibir itu tersenyum...dan semoga semuanya diridhoi oleh-Mu.
Amin Allahumma Amin,,,,

Minggu, 27 Januari 2013

Aufsatz2: Warum Studiere Ich Deutsch?

0 komentar

Als ich in der Oberschule ging, Deutsch war eines meiner liebsten Fächer. Mein Deutsch Lehrer schlug mir vor, in der Staatlichen Universität Malang zu studieren. Deswegen trug ich mich nach der Schulabschluss Bidik Misi Stipendium ein. Was für ein Glück, ich bekam das traumende Stipendium.


Seit 2011 bin ich Deutsch Studentin in der Staatlichen Universität Malang. Bis jetzt bekomme ich im Studium viele Erlebnisse, die viele gute Veränderung für mich machen. Mit der Organisation kenne ich, wie ich meine Tätigkeit organisieren. Mein Problem ist, manche Bücher, die mich für Studium brauche, kann ich in der Bibliothek nicht finden. Die Materien suche ich gern im Internet.


Aber wegen der freundlichen Dozenten wird ich fleisiger sein, mein Deutsch zu verbessern. Ich freue mich auch darauf, dass ich viele Freunden aus andere Städten kennenlerne, mit denen diskutiere ich gern. Als Deutsche Studenten haben wir einen gleichen Traum: nach Deutschland fliegen.

 

Wörterlänger: 147

Aufsatz1: Recherche (Semester Test)

0 komentar

Für eine Recherche kam ich am 11.Dezember 2012 in die Bibliothek der Literaturwissenschaft  Fakultät. Sie liegt im 2.Stock im D7 Gebäude und besteht aus 2 Räume, Hauptraum und Buchraum. Hauptraum hat 70 Quadratmeter groβ, 2 Fenster, 1 groβen Balkon, 22 Tische, 23 Stühle, 8 Bücherregale, 2 Taschenregale, 2 Ventilators und 5 Computer. Hier kann man die Registration machen, über Hausaufgabe diskutieren oder nur ein Buch lesen. Buchraum ist kleiner und dunkler als Hauptraum. Es hat 25 Bücherregale, 7 Tische und 2 Fenster. Es gibt etwa 2.500 Bücher: Kursbücher, Theses, Novelle, Romane, Worterbücher und so weiter.
Die Bibliothek des Literaturwissenschaft Fakultät hat Regeln. Wir können hier keine Essen und Trinken bringen. Die Bücher im Buchraum sollen nur hier lessen. Wenn wir schon die Bibliothekkarte machen, können wir die Bücher zu Hause bringen. Pro Person kann maximal 2 Bücher verleihen.
Wegen des groβen Balkons und der Ventilators ist das Hauptraum sehr frisch. Als ich dort war, waren zwei Studentinen vor dem Registrationtisch, die ein Buchverleih mit dem Bibliothekar machten. Die Studentinen und Studenten saβen meisten mit dem Laptop und auch vielen Büchern auf dem Tisch. Sie konzentieren sich auf die Aufgabe. Aber mancher diskutieren nur mit ihren Freunden.
Die Bibliothek riecht nur nach Buch. Ich finde, dass es so lecker ist, deswegen sitze ich gern stundenlang hier. Manche Leute sagen, dass Bibliothek ein langweiliger Platz ist, dazu stimme ich nicht. Ich mag Lesen, damit kann ich mich entspannen.
Dann machte ich ein kurzes Interview mit einem Bibliothekar, der Rudi Rahayu heiβt. Er hat gesagt, dass er seit 2010 hier gearbeitet habe. Jeden Tag würden etwa 50 Studenten Bücher verleihen, die meisten Kursbücher seien. Das Problem sei, wenn die Studenten und Studentinen die Bücher zu spät zurückstellten. Jedes Jahr gebe es viele neue Bücher, die von der Studenten beitragen würden. Deshalb gebe jetzt viele Varianten und Wahlen. Er möge seine Arbeit sehr. Die Kollegen seien nett und die Arbeitszeit sei toll für ihn.
Zwei Computer vor dem Registrationstisch sind kaputt. Früher konnten man damit die Aufgabe tippen. Aber jetzt ist sie unbrauchbar. Es wäre besser, wenn die Computer ersezt würden.
Mein Lieblingsplatz ist der Balkon, weil es ruhig ist und frische Luft hat. Aber leider können wir keine Bücher hier bringen. Es wäre besser, wenn man in allen Plätze der Bibliothek lesen könnte. Studentinen und Studenten, die ein Buch verleihen, müssten auch für die Bücher verantwontlich sein. Damit können wir die Regelmäsigkeit bilden.
 

Aufsatz1: meine Heimat

0 komentar
Jetzt versuche ich, meine Aufsatz Aufagabe hier zu schreiben. Aufsatz1 ist ein Kurs, das Deutsche Studenten in 3. Semester beherschen sollen. Hier ist eine Beispie fuer meine Hausaufgabe:


Ich finde, Heimat ist eine Stadt, in der man geboren und aufgewachsen ist. Wenn wir die Heimat von jemandem wissen, können wir uns sehr gut kennen lernen. Jede Heimat hat andere Regionalsprache und Kultur, deshalb müssen wir die andere hochachten.

2011 sind meine Familie und ic nach Bondowoso umgezogen. Aber in Situbondo bin ich geboren und habe siebzehn Jahre gewohnt. Deswegen entscheide ich mich, dass Situbondo meine Heimat ist.

In Situbondo gibt es Nationalpark Baluran, Pasir Putih und Setancak Waterfall. Die Spezialität ist Tajin Palappa. Es schmekt mir sehr gut. Arum Manis Mango aus Situbondo ist auch sehr bekannt.

Ich freue mich, dass ich in aSitubondo aufgewachsen bin. Es hat frische Luft und schöne Natur. Dort habe ich auch viele unvergessliche Erinnerungen mit meinen Freunden. Wir machten alle zusammen: Fahrad fahren, studieren, zum Strand fahren, Probeme lösen und so weiter.

Die ideale Heimat für mich ist eine Stadt, deren Luft Frisch ist. Ich mag auf dem Land wohnen. Keine Luftverschmutzung, kein Verkehrsstau und keine Lärme finde ich besser.

Sabtu, 05 Januari 2013

Ceker Ayam Pedas ala chef Nona

0 komentar
Seperti biasa, dibawah ini adalah hasil eksperimen saya selama liburan. Bumbunya hasil browsing dan di tambah-tambahin sendiri (pake feeling) :p. Selamat mencobaaa:

Resep (dihaluskan):
- 3 siung bawar merah
- 5 siung bawang putih
- 1 daun serai
- 3 cabe merah
- 15 (sesuai selera) cabe rawit

Bahan:
- 1/2 kilo ceker ayam
-1 sendok kecap manis
-2 sendok saus pedas
-daun bawang diiris kecil-kecil
- minyak goreng secukupnya
-garam 1 sendok teh
-gula 2 sendok teh
 - Air 200 cc

Cara membuat:
1. Rebus ceker ayam yang sudah dibersihkan selama kira-kira 15 menit, tiriskan.
2. Panaskan minyak goreng
3. Masukkan bumbu yang dihauskan dan daun serai, aduk2 hingga harum
4. Tambahkan daun bawang, garam dan gula (no MSG!)
5. Tuang air 150 cc, aduk dan tunggu sampai mendidih.
6. Masukkan Ceker Ayam, aduk.
7. Masukkan saus pedas dan kecap, aduk
8. Tunggu selama 20 menit, sambil diaduk agar bumbu menyerap dan merata
9. Ceker ayam pedas siap di santap. :9 (y)



Sabtu, 22 Desember 2012

Hari Ibu

0 komentar
Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kemarin, tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Bagi saya, ibu adalah orang yang paling berharga di dunia ini. Tanpa dia kita tak akan terlahir, tumbuh dan menjadi sosok dewasa seperti sekarang. Tidak hanya di islam, masyarakat dunia pun sepakat akan jasa besar seorang 'ibu' hingga membuat sebuah hari perayaan untuknya.

 Namun alangkah lebih baiknya jika kita merayakan hari ibu tidak hanya tanggal tertentu saja, melainkan setiap hari. Entah itu sekedar mengirim sms atau menelfon untuk bertanya kabar. Kesibukan kita sebagai pelajar atau mahasiswa tentu amat menyita waktu dan perhatian kita, ketimbang sekedar mengirim sms. Percaya lah, saya telah mengalaminya sendiri. Bahwa amat besar pengaruh doa ibu, ketika kita mengucapkan cinta atau meminta doa beliau. Kepada siapa lagi kita meminta dukungan? Seorang ibu, yang meskipun nun jauh disana, pasti akan mendukung apa saja yang kita inginkan, demi keberhasilan kita.

Mama. Saya biasa memanggilnya dengan nama itu. Ya, saya jadi teringat almarhumah mama saya. Yang dengan seluruh tenaganya merawat saya yang di dalam kandungan, yang melahirkan saya. Beliau meninggal sekitar tujuh tahun lalu. Beliau orang yang ceria dan sabar, dan saya yakin pasti, tawa saya, senyum saya, cara jalan saya, selera saya, adalah cerminan dirinya. Meskipun, saya akui kami tidak begitu dekat karena saya diasuh dengan mama yang lain. Sampai umur 19 tahun ini, saya sadar. Ya Allah, ternyata saya dan mama tidak begitu dekat. Jika beliau masih ada, banyak sekali pertanyaan dan cerita yang ingin saya katakan. Kenangan yang tersisa sekarang adalah, ketika saya tidur didada beliau,  ketika dengan lembut beliau membersihkan kedua telinga saya (waktu itu saya merajuk dan memaksa:')), ketika ayah memarahinya saat membubuhkan saos tomat kebanyakan ke mangkok baksonya, ketika saya menemaninya mengetik puisi di kamar (yang ternyata itu adalah puisi terakhir), atau ketika dia tertawa ketika kami menonton telivisi bersama. Atau mungkin , saya akan bertanya, ma, apakah sewaktu remaja dulu kau juga penggemar musik pop?apa reaksimu ketika bertemu laki-laki yang kau cintai? bagaimana rasanya memutuskan untuk menikah dengan ayah? apakah kau juga suka sepatu kets? apakah kau juga suka menulis puisi cengeng?apakah kau juga suka marah tanpa sebab? apakah kau pernah merasa minder dengan tinggi badan maupun penampilanmu? dan lain-lain dan lain lain.

Banyak banyak sekali yang ingin saya tanyakan pada beliau.

Dan masih ada sosok mama yang amat saya cintai di dunia ini. Mama yang merawat saya 18 tahun terakhir. Ketegarannya dan kekuatan yang beliau miliki, ketika kami mengalami tahun-tahun berat bersama. Hingga saat ini, yang masih setia mendengarkan curahan hati, yang menasehati saya, yang memeluk saya ketika saya rindu rumah, yang memarahi saya dengan omelan khasnya, atau humor konyolnya, dan protesnya ketika saya menegur beliau untuk hal-hal kecil.

Allah mengaruniakan dua sosok berarti ini di kehidupan saya. Dan saya berterimakasih sekali akan hal itu. Mereka berdua benar-benar ibu yang berharga. Saya tau, tidak ada seseorang yang sempurna di dunia ini, pun orang tua kita. Kekurangan maupun kelebihan yang ada alangkah baiknya jika kita bisa saling melengkapi, saling menghargai.

Semoga senantiasa di ridhoi olehNya, diberi kesehatan dan di lancarkan rejekinya.

Dan, semoga kelak saya diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu yang baik. Bagaimanapun, menjadi seorang ibu adalah kedudukan yang terhormat bagi seorang wanita. Di tangan seorang ibulah takdir sebuah negara dan peradaban. So, ada ataupun tiadanya dia, tetaplah muliakan dan hormati ia. :)
 

Leben Notizen Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template