Marhaban Yaa Ramadhan...:)
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Ramadhan tahun ini saya awali (terpaksa) di Malang. Semuanya bermula sekitar 3 minggu yang lalu, ketika sebuah durian itu jatuh menimpa saya. Yang jelas, ini rasanya ngga enak banget. Itu adalah: menjadi Co lomba Deutsche Tage 2013.
Yak! Banyak sesuatu yang harus dipersiapkan, karena lombanya tingkat Jawa Timur (rencananya Jatim Bali, tapi alhamdulillah ngga jadi XD). Ya Allah, amanah ini, lumayan sesuatu buat saya. Sejak SMA tidak begitu banyak bekal yang saya peroleh, hanya menjadi wakil ketua redaksi majalah sekolah. Dan entah kenapa, di dunia kampus ini saya terjun di lumayan banyak organisasi, dan itu, tanpa saya sadari, menuntut pikiran dan tenaga saya juga.
But, so far so good. Ternyata Allah memang beri kemudian jika kita memang tawakal. Alhamdulillah ya Rabb..:'). Kadang udah pasrah banget sama nilai, karena jadwal yang tidak teratur jadi saya hanya bisa belajar di dini hari. Atas bantuan Allah lah, IP saya semester kemarin meningkat (setidaknya, meningkat kembali ke IP semester 2) :D
Siang ini, tepatnya Ramadhan hari ke 2, dan saya masih sibuk dengan pengurusan Pedoman Pelaksanaan Lomba yang harusnya sudah terkirim 2 bulan lalu. Rasanya? Takut, capek, pusing. But I know I have to fight for it. Selai itu ada 4 proker lain yang saya kerjakan bersama organisasi lain. Wow.
This year will be a wonderfull year i ever have. Dari segi tanggung jawab, tarbiyah, akademis, maupun emosi saya benar-benar diuji. Yang terpenting adalah, tidak melupakan dakwah, karena dimana-mana adalah ladang dakwah!:))
Saya yakin Allah bersama saya. Yang penting satu: niatkan semuanya untuk-Nya, jadi kegiatan diluar dakwah benar-benar juga harus diluruskan niatnya.
Tanpa saya sadari, perlahan namun pasti, saya merasa intensitas bersama keluarga jadi berkurang. Sedih sekali tidak bisa menemani mama puasa di awal Ramadhan. :(. Untunglah ternyata beliau punya agenda di Blitar selama 5 hari. Membayangkan beliau makan sahur dan buka di hotel lebih baik bagi saya, ketimbang makan sendirian di rumah. Bagaimanapun, dakwah di keluarga adalah nomor satu. Ya, nomor satu. Semoga diberi kemudahan untuk menghadapinya ya Allah, amin!
Hmmm...
Malang mendung setiap hari. Cuaca pun masih belum teratur. Tak terasa sudah memasuki semester ke lima saya di Universitas Negeri Malang. Tinggal hitungan bulan maka saya akan genap berusia 20 tahun. Usia yang cukup untuk dibilang dewasa, isn't it?
God, kadang saya buka lagi catatan hati yang masih tersimpan rapi, membaca kembali mimpi-mimpi saya, takut terlupa. Karena ketika sampai saat ini, terkadang prioritas menjadi berubah. Sebisa mungkin saya menambah priorotas tanpa melupakan apa yang saya mimpikan sejak awal. Kadang tak percaya, bisakah saya, yaa Allah?
Namun perasaan itu selalu bisa ditepis, selalu teringat ceramah ust. YM, atau juga buku-buku motivasi dari orang-orang keren. :). Saya yakin bisa menjadi seperti mereka kelak.
Bismillahhirrohmanirrihiiim....
Lancarkan ya, Ya Allah...:)
Kamis, 11 Juli 2013
Selasa, 28 Mei 2013
Rabu, 20 Maret 2013
hidup
Untuk apa manusia hidup?
Banyak jawaban bisa hadir dari pertanyaan ini, tergantung pemikiran masing-masing orang. Sekali lagi prioritas adalah kunci penting untuk memantapkan tujuan.
Seperti yang diucapkan ustad Felix, bahwa manusia itu seperti sebuah handphone, dia diciptakan dan mempunyai buku petunjuk dalam pemakaiannya. Bisa disimpulkan bahwa selama kita hidup kita tidak bisa lepas dari buku petunjuk yang memang dibuat oleh Pencipta kita. Apa itu? Tentu saja jawabannya Al-Quranul karim.
Dalam surat Ali-Imran:104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar .
merekalah orang-orang yang beruntung”.
So,Semangat berbuat!
Sekecil apapun itu, lakukanlah dan berharaplah untuk ridho Allah...Innamal a'malu binniyat...
Wassalam
Kamis, 14 Maret 2013
Now
Malam inni,,,serasa terdampar di lautan waktu yg terus saja berderu, membawa kapal mungilku ke tempat-tempat yang misteri. Banyak hal baru, teman baru,suasana baru.
Kadang rindu saat-saat maba, yang hanya duduk manis belajar dan memikirkan bagaimana besok akan jadi hari yang menyenangkan.
Tapi sekarang?
Sekarang adalah bagaimana tentang mengatur diri sendiri begitu juga orang lain, bagaimana bisa membuat diri lebih baik begitu juga orang lain.
Benar memang makin kedepan kita makin dituntut banyak oleh semuanya, orang tua, teman, dosen, dan lainnya.
Kadang aku merasa melihat suatu gunung batu menjulang tinggi di depan mata.
Bagaimana memanjatnya, bagaimana harus memulai untuk bersiap?
Ah, terlalu lama hanya untuk berpikir.
Sekarang jalani saja apa yang di depan mata.
Karena kenyataan akan menertawakanmu jika kau lari.
Tantanglah rintangan hingga ia bosan mengejarmu!,teriakku kadang pada diri sendiri.
Aku mulai bisa tersenyum ketika banyak pekerjaan datang. Ya, mungkin ini cara Allah tempa aku untuk jadi lebih baik.
Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal tidak penting.
Syukurlah. Thanks God.
Semoga semuanya bisa terselesaikan dengan baik, dan membuat semua bibir itu tersenyum...dan semoga semuanya diridhoi oleh-Mu.
Amin Allahumma Amin,,,,
Kadang rindu saat-saat maba, yang hanya duduk manis belajar dan memikirkan bagaimana besok akan jadi hari yang menyenangkan.
Tapi sekarang?
Sekarang adalah bagaimana tentang mengatur diri sendiri begitu juga orang lain, bagaimana bisa membuat diri lebih baik begitu juga orang lain.
Benar memang makin kedepan kita makin dituntut banyak oleh semuanya, orang tua, teman, dosen, dan lainnya.
Kadang aku merasa melihat suatu gunung batu menjulang tinggi di depan mata.
Bagaimana memanjatnya, bagaimana harus memulai untuk bersiap?
Ah, terlalu lama hanya untuk berpikir.
Sekarang jalani saja apa yang di depan mata.
Karena kenyataan akan menertawakanmu jika kau lari.
Tantanglah rintangan hingga ia bosan mengejarmu!,teriakku kadang pada diri sendiri.
Aku mulai bisa tersenyum ketika banyak pekerjaan datang. Ya, mungkin ini cara Allah tempa aku untuk jadi lebih baik.
Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal tidak penting.
Syukurlah. Thanks God.
Semoga semuanya bisa terselesaikan dengan baik, dan membuat semua bibir itu tersenyum...dan semoga semuanya diridhoi oleh-Mu.
Amin Allahumma Amin,,,,
Minggu, 27 Januari 2013
Aufsatz2: Warum Studiere Ich Deutsch?
Als
ich in der Oberschule ging, Deutsch war eines meiner liebsten Fächer. Mein
Deutsch Lehrer schlug mir vor, in der Staatlichen Universität Malang zu
studieren. Deswegen trug ich mich nach der Schulabschluss Bidik Misi Stipendium
ein. Was für ein Glück, ich bekam das traumende Stipendium.
Seit
2011 bin ich Deutsch Studentin in der Staatlichen Universität Malang. Bis jetzt
bekomme ich im Studium viele Erlebnisse, die viele gute Veränderung für mich machen.
Mit der Organisation kenne ich, wie ich meine Tätigkeit organisieren. Mein
Problem ist, manche Bücher, die mich für Studium brauche, kann ich in der
Bibliothek nicht finden. Die Materien suche ich gern im Internet.
Aber
wegen der freundlichen Dozenten wird ich fleisiger sein, mein Deutsch zu
verbessern. Ich freue mich auch darauf, dass ich viele Freunden aus andere
Städten kennenlerne, mit denen diskutiere ich gern. Als Deutsche Studenten
haben wir einen gleichen Traum: nach Deutschland fliegen.
Wörterlänger:
147
Aufsatz1: Recherche (Semester Test)
Für
eine Recherche kam ich am 11.Dezember 2012 in die Bibliothek der Literaturwissenschaft
Fakultät. Sie liegt im 2.Stock im D7 Gebäude
und besteht aus 2 Räume, Hauptraum und Buchraum. Hauptraum hat 70 Quadratmeter
groβ, 2 Fenster, 1 groβen Balkon, 22 Tische, 23 Stühle, 8 Bücherregale, 2
Taschenregale, 2 Ventilators und 5 Computer. Hier kann man die Registration
machen, über Hausaufgabe diskutieren oder nur ein Buch lesen. Buchraum ist kleiner
und dunkler als Hauptraum. Es hat 25 Bücherregale, 7 Tische und 2 Fenster. Es
gibt etwa 2.500 Bücher: Kursbücher, Theses, Novelle, Romane, Worterbücher und
so weiter.
Die
Bibliothek des Literaturwissenschaft Fakultät hat Regeln. Wir können hier keine
Essen und Trinken bringen. Die Bücher im Buchraum sollen nur hier lessen. Wenn
wir schon die Bibliothekkarte machen, können wir die Bücher zu Hause bringen. Pro
Person kann maximal 2 Bücher verleihen.
Wegen
des groβen Balkons und der Ventilators ist das Hauptraum sehr frisch. Als ich dort war, waren zwei
Studentinen vor dem Registrationtisch, die ein Buchverleih mit dem Bibliothekar
machten. Die Studentinen und Studenten saβen meisten mit dem Laptop und auch vielen
Büchern auf dem Tisch. Sie konzentieren sich auf die Aufgabe. Aber mancher
diskutieren nur mit ihren Freunden.
Die
Bibliothek riecht nur nach Buch. Ich finde, dass es so lecker ist, deswegen
sitze ich gern stundenlang hier. Manche Leute sagen, dass Bibliothek ein
langweiliger Platz ist, dazu stimme ich nicht. Ich mag Lesen, damit kann ich mich
entspannen.
Dann
machte ich ein kurzes Interview mit einem Bibliothekar, der Rudi Rahayu heiβt.
Er hat gesagt, dass er seit 2010 hier gearbeitet habe. Jeden Tag würden etwa 50
Studenten Bücher verleihen, die meisten Kursbücher seien. Das Problem sei, wenn
die Studenten und Studentinen die Bücher zu spät zurückstellten. Jedes Jahr
gebe es viele neue Bücher, die von der Studenten beitragen würden. Deshalb gebe
jetzt viele Varianten und Wahlen. Er möge seine Arbeit sehr. Die Kollegen seien
nett und die Arbeitszeit sei toll für ihn.
Zwei
Computer vor dem Registrationstisch sind kaputt. Früher konnten man damit die
Aufgabe tippen. Aber jetzt ist sie unbrauchbar. Es wäre besser, wenn die Computer
ersezt würden.
Mein
Lieblingsplatz ist der Balkon, weil es ruhig ist und frische Luft hat. Aber leider
können wir keine Bücher hier bringen. Es wäre besser, wenn man in allen Plätze
der Bibliothek lesen könnte. Studentinen und Studenten, die ein Buch verleihen,
müssten auch für die Bücher verantwontlich sein. Damit können wir die
Regelmäsigkeit bilden.
Aufsatz1: meine Heimat
Jetzt versuche ich, meine Aufsatz Aufagabe hier zu schreiben. Aufsatz1 ist ein Kurs, das Deutsche Studenten in 3. Semester beherschen sollen. Hier ist eine Beispie fuer meine Hausaufgabe:
Ich finde, Heimat ist eine Stadt, in der man geboren und
aufgewachsen ist. Wenn wir die Heimat von jemandem wissen, können wir uns sehr
gut kennen lernen. Jede Heimat hat andere Regionalsprache und Kultur, deshalb
müssen wir die andere hochachten.
2011 sind meine Familie und ic nach Bondowoso umgezogen.
Aber in Situbondo bin ich geboren und habe siebzehn Jahre gewohnt. Deswegen
entscheide ich mich, dass Situbondo meine Heimat ist.
In Situbondo gibt es Nationalpark Baluran, Pasir Putih und
Setancak Waterfall. Die Spezialität ist Tajin Palappa. Es schmekt mir sehr gut.
Arum Manis Mango aus Situbondo ist auch sehr bekannt.
Ich freue mich, dass ich in aSitubondo aufgewachsen bin. Es
hat frische Luft und schöne Natur. Dort habe ich auch viele unvergessliche
Erinnerungen mit meinen Freunden. Wir machten alle zusammen: Fahrad fahren,
studieren, zum Strand fahren, Probeme lösen und so weiter.
Die ideale Heimat für mich ist eine Stadt, deren Luft Frisch
ist. Ich mag auf dem Land wohnen. Keine Luftverschmutzung, kein Verkehrsstau
und keine Lärme finde ich besser.
Langganan:
Postingan (Atom)
