Minggu, 10 Juni 2012
KHSan
"Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS 14:7)
hehe, jadi inget KHSan dengan temen-temen,,, Katanya nilai kami kompak menurun... Ayo tetap semangat dan bersyukur yaa!! :D. RAncang misi balas dendam buat semester depan, Insyaallah yg ini balas dendamnya boleh, soalnya menuju kebaikan..^^
untitled
Lelah mungkin dia berlari
Bibir mentari tak lagi kikis sunyi
Terdiam tak henti dendangkan luka
Tangannya dipasung gigi-gigi neraka
Menggeliat
Meratap
Namun pertolongan tak jua
datang kibaskan cadar derita tak kunjung akhir
Tak ada bisikan Tuhan
Tak ada nyanyian qolbu
Hanya tubuh menggigil sepi dikikis duri-duri
dosa
NB: ini puisi jadi gak lebih dari 5 menit. Gak tau kenapa kok akhirnya keluar kata2 itu. Dan setelah dibaca ternyata ceritanya tntang hari akhir. IIiih,,,sereem. Naudzubillah. Semoga Allah selalu melindungi kita ya...Amin
Selasa, 22 Mei 2012
Berlayar ke Andromeda
Hahaha... kayaknya sekarang aku bakal banyak ngepost cerpen nih, (sombong) :p. Ini cerpen pertama dimana aku bikin sudut pandang orang pertama laki-laki.
Ceritanya sih cerita cinta, meski gak tahu kok bisa-bisanya ini cerpen jadi beneran (loh?). Sebenernya sih aku mau netepin genre tulisan ke 'family'. Eh, tapi gak apa deh ini, moga gak jelek-jelek banget yaaa...
Ceritanya sih cerita cinta, meski gak tahu kok bisa-bisanya ini cerpen jadi beneran (loh?). Sebenernya sih aku mau netepin genre tulisan ke 'family'. Eh, tapi gak apa deh ini, moga gak jelek-jelek banget yaaa...
Berlayar
ke Andromeda
Aku
selalu membayangkan diriku adalah seorang nahkoda. Kapalku adalah kapal yang
tak besar, namun kuat dan megah. Setiap hari yang kulakukan hanya berlayar dan
berlayar. Terkadang menepi hanya untuk mendapatkan tambahan makanan. Namun aku
lebih suka melaut. Melepaskan sauh dan menjauh dari daratan. Karena ketika yang
ada hanya air dan langit, semuanya akan tampak sangat menawan bagiku. Ya,
serasa hanya ada aku dan kamu, bintang yang bersinar sangat terang diatas sana,
yang selalu ada mengobati siksa perjalanku yang tak tahu kapan akan berakhir.
Kamu
terlalu bersinar. Kamu Andromeda yang menembus gelisah makhluk-makhluk malam
yang resah. Juga selalu memberi kesan mendalam disetiap hati yang pura-pura tak
peduli. Porsi sinarmu melebihi bintag-bintang lainnya, seakan tak pernah redup,
bertambah setiap harinya. Ketika terang-terangan aku memujimu, kamu bilang, aku biasa saja. Dengan penuh
kutatap bola matamu yang bening, tak ada kebohongan disana. Betapa murninya
ketulusan yang kamu berikan pada semua orang disekitarmu.
Pertama
bertemu denganmu hari serasa dipenuhi bunga-bunga. Bahkan aku dapat mencium
wanginya, merasuk hingga kehati. Ya, mungkin benar wangi pesonamu itu meracuni
hatiku. Rasanya tidak dapat dihindari lagi. Mungkin ini yang namanya mengagumi,
ataukah jatuh hati?
Bisa
dibilang aku adalah tipe pria yang susah jatuh cinta. Banyak wanita yang
menyerah ditengah jalan saat mendekatiku. Dan yang bisa aku lakukan hanyalah
tetap berdiri tegak di atas kapal keangkuhanku. Satu persatu dari mereka
memilih untuk singgah ke kapal lain. Ada yang tetap tinggal, rela menjadi budak
di kapalku yang kuat dan megah ini. Mereka datang dan pergi dengan kusuruh.
Jangan salahkan aku, mereka yang memilih.
Lupakan
sejenak wanita-wanita tak spesial itu.
Sekarang akan aku bercerita tentang Andromedaku. Menurutku, dia seperti
malaikat yang dibungkus tubuh manusia. Indah. Tutur katanya santun dan dia juga
pintar.
Cerpen: Criiing!
Ini Cerpen pertama yang aku buat semenjak ikut UKM Penulis... Sempet dipuji juga sama senior... Cekidot ya..;) (minta sarannya juga)
NB: Jangan heran baca judulnya...xixixi :D
Criiing!
Aku
tidak tahu kenapa tiba-tiba Dani
ingin
pergi begitu saja. Dia adikku
satu-satunya, dan sekarang sudah mulai sibuk dengan tetek bengek urusan
sekolahnya. Biasanya
setiap sore dia akan membawakanku coklat dan bernyanyi untukku sampai malam
sambil melihat bintang-bintang . Tidak tahukah dia, aku masih
ingin ada yang menemani. Setidaknya ada yang menggantikan Ayah yang selalu
pura-pura tak peduli.
Siang
ini ku lihat dia berdiri gugup dihadapanku. Pandangan matanya melayang kemana-mana.
Aku jadi sedikit tak suka
dengan dia yang berusaha bersikap dewasa dihadapanku. Kadang ku temukan sosok ayah disetiap tingkah laku maupun
perkataannya. Perfeksionis dan tegas. Itu yang kadang membuatku jengkel.
“
Kak nin, sepertinya aku gak bisa kesini
sesering sebelumnya. Kamu tahu, Ujian
Nasional sudah dekat dan aku harus serius menyiapkannya...”,
ujarnya. Aku tertawa kecil
melihatnya gugup seperti ini.
“
Berapa?”
“
Apanya?”
“
Ah bilang saja, kamu pasti ingin minta uang pesangon untuk biaya les dan ini itu, kan. Aku tahu Ayah gak mungkin ngurusin kamu. Dia selalu gak
peduli dengan kita. Sudah, jujur saja!”
Dia
terpaku sejenak menatapku, hingga kemudian beralih keluar jendela kamarku yang berbingkai putih. Ayah mengajakku
pindah kesini beberapa bulan yang lalu. Vila keluarga kami yang jauh dari keramaian kota. Kamarnya sempit, lembap, sedikit perkakas, dan semuanya serba tua.
Hanya warna catnya yang putihlah yang aku sukai dari
tempat ini. Dan sejak itulah ayah jarang menyapaku, bahkan menjengukku pun tidak.
“
Aku gak butuh itu kak. Aku…hanya takut kau akan merasa kesepian”, kata Dani.
Oh, adikku ini memang pengertian
sekali, beda dengan ayah.
“Nggak.
Gak apa. Pergilah kalau kamu ingin pergi”, kataku akhirnya. Tak bisa aku hindari bahwa
sebenarnya aku ingin menangis. Menyadari, bahwa tak akan ada lagi yang
diam-diam membelikanku coklat. Mengingat
makanan yang disini amat tidak aku suka.
Ayah
sekarang melarangku keluar rumah. Aku benci ini. Ini berarti aku harus sering
berbicara dengan mbok Marti. Pembantuku yang tua dan tuli itu. Aku harus
berteriak ketika berbicara dengannya.
“
Oh, oke… Sepertinya, aku harus pergi sekarang”, Dani beranjak dari ranjang
kecilku yang tak empuk. Aku tarik tangannya, memaksanya duduk lagi didepanku.
“Ritual
sebelum kamu pergi”, ucapku dengan seringai jahil. Sial, padahal aku sedih
sekali. Aku tatap adikku satu-satunya ini. Kugenggam tangan kanannya dengan
tangan kiriku. Sedang tangan kananku diatas kepalanya. Seperti yang kami
lakukan semenjak kecil. Dia akan memenjamkan mata dan mengucapkan permohonan.
Aku akan membayangkan menjadi peri
ajaib sambil mengucapkan, “Criiing…!”. Saat itulah kami yakin permintaan kami, apapun itu, pasti akan terkabul.
Senin, 20 Februari 2012
Hujan Pertama
Haaii people,,,! Sekarang saya hadir dengan cerpen baru saya, sempat diikutkan lomba cerpen se-universitas, tapi sekarang masih belum pengumuman. Semoga suka dan ditunggu komennya..:)
HUJAN PERTAMA
Oleh: Nona Elana K
Suasana kelas riuh rendah siang itu. Retno,si ketua kelas, sibuk cuap-cuap di depan dengan kerudung putihnya yang agak tidak keruan. Cewek tomboy itu cukup kerepotan mengatur teman-temannya yang semangat memberikan pendapat. Rapat kelas sedang membicarakan tentang tema apa yang akan mereka pakai untuk album kenangan saat keulusan nanti. Kelas XII bahasa ini memang ingin memberi sesuatu yang berbeda untuk foto mereka nanti.
Di pojok kelas, bangku nomor dua dari belakang , Aish sibuk menekuri buku bahasa inggris di atas mejanya. Tapi, jika dilihat lebih teliti lagi, kedua bola mata indah itu tidak sedang membaca kumpulan kata di depannya. Pandangan itu terpaku , pikirannya melayang ke hal lain. Sesuatu yang terjadi satu jam yang lalu. Sesuatu yang membuatnya berpikir tak keruan.
“ Aku pulang duluan…”, sebuah suara pelan terdengar.
Dari belakang Aish, terdengar suara kursi terdorong. Sosok jangkung itu melangkah dengan lesu sambil menarik tas ransel hitamnya yang cukup berat. Aish memperhatikan dengan ekor matanya. Dia pandang sosok itu dari belakang. Padahal rapat kelas belum selesai, dan tidak mungkin Retno akan membiarkan seorangpun keluar tanpa ikut berpendapat, apalagi dia adalah pengurus kelas.
“Nda...“, tanpa sadar bibir Aish memanggil nama itu. Ups, dia langsung menutup mulutnya yang tanpa komando mengeluarkan suara, ia tak mengerti apa yang akan dilakukan selanjutnya. Bersamaan dengan itu, sosok yang hanya beberapa langkah didepannya itu menoleh.
“Hm?“
Aish bisu. Pandangannya beralih ke kusen jendela yang abu-abu. Tanpa sadar dia memperbaiki posisi duduknya semula.
“ Yang tadi itu, jangan salah paham ya…”, setelah berapa lama akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Beberapa detik kemudian Aish merutuki diri sendiri. Bagaimana bisa dia menanyakan hal sekonyol itu. Aish menatap mata itu beberapa detik, tapi akhirnya memalingkannya lagi.
Nanda terdiam, terlihat memikirkan sesuatu.“ Maksudmu?”
Tangan Aish serasa lunglai seketika. Oh Tuhan, apa yang harus dikatakannya sekarang. Ternyata Nanda tidak paham dengan apa yang dia pikirkan. Aish mulai menyadari, mungkin hanya dirinya yang terlalu repot mementingkan hal-hal yang sepele.
“ Eerrr... Ah, bukan apa-apa kok. Hehe, nggak penting. Udah pulang sana…gih…”, kata Aish salting dengan mengibaskan tangannya bercanda, mengusir Nanda pulang. Nanda memandanfnya penuh tanda tanya. Yang dipandang hanya memasang cengiran khasnya, berusaha memberitahu bahwa dia baik-baik saja.
Nanda pun berbalik, berniat untuk pulang beneran. Aish kembali menunduk, matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya atas apa yang barusan dilakukannya. Beberapa detik berlalu, Aish yakin Nanda sudah benar-benar pergi. Setelah menenangkan diri dan sedikit menggerutu,dia memutuskan untuk memastikan bahwa cowok itu sudah pergi. Betapa kagetnya dia, menemukan Nanda ternyata telah berbalik dan sekarang berdiri satu meter didepannya. Tatapan mata Nanda tak tentu arah, bingung ingin memulai dari mana.
“ Dia...cuma bercanda, kan?“, tanya Nanda akhirnya. Tidak menatap Aish, hanya menunduk menekuri lantai kelas yang hitam. Reflek Aish membenarkan letak kerudung putihnya. “Haaa??“. Rasa kaget membuatnya tak bisa berpikir cepat saat ini.
“ Dia...“, ujar Nanda dengan menunjuk seseorang di samping Aish dengan ekor matanya. Aish kontan menoleh. Disana ada Intan yang sedang meneriaki Dimas yang tidak segera mengembalikan penghapusnya. Teman sebangku Aish itu memang terkenal ceriwis. Ah, Aish sadar sekarang Nanda tahu apa yang dimaksudkannya tadi.
Cewek berjilbab itu mengerjapkan matanya tanda mengerti. “Dia?“, tanya Aish dengan jempol menunjuk ke arah Intan, memastikan. Nanda mengangguk. Wajahnya yang kusut tak berani Aish tatap lama-lama. “ Emmm, iyaah. Dia..bercanda kok...“, kata Aish akhirnya dengan naga lega yang sangat kentara. Tak sadar kepalanya ikut mengangguk-angguk jenaka. Nanda hanya bisa tersenyum tipis. Seperti ada setitik air menyejukkan wajahnya yang kusut. Hanya setitik, dan itu membuat Aish tidak yakin akan apa yang ada dipikirkan cowok itu. Nanda memang susah ditebak, itu pendapat sebagian besar teman-temannya.
“ Oke...“, kata Nanda kikuk, membalikkan badan dengan tangan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Entahlah, rasa aneh selalu mengikuti Aish belakangan ini. Rasa yang baru dia sadari ketika ada beberapa getar aneh di perutnya ketika bertemu Nanda. Ia tak mengerti itu apa, yang ia tahu hanya perasaan aneh.
Nanda lolos keluar kelas. Pandangan Aish mengikutinya. Sampai sosok itu menuruni tangga, sampai ujung rambutnya lama-kelamaan tak terlihat lagi. Aish menarik nafas, dan melemparkan wajahnya keatas buku bahasa Inggrir yang tebal. Dia tahu, sekarang mukanya pasti merah padam. Dipukul-pukulnya bangku dengan gemas.
“ Bodooh…!”
Rabu, 04 Januari 2012
Renungan2
(Hadeeuuhh Pelliss ya, udah lama aku gak ngeblog, baru nyadar aku pernah ngepost tulisan ini. Abis dibaca ulang, kok, mellow sekalle yah... Tapi eman-eman mau dihapus. Ini curahan hati waktu itu kali ya..... )
Allah itu maha pemurah.
Allah itu maha pemurah.
Jangan pernah takut meminta sebesar-besarnya pada Allah.
Allah itu maha mendengar, Dia akan mendengar setiap kata doa dari bibir kita...
Meski jatuh dan terluka, Allah selalu bersama kita...
Begitupun kala senang dan tertawa, Allah tetap mengawasi kita...
Berusaha berikan yang terbaik...
Allah akan menilai seberapa besar usaha kita,
dan memberi sesuatu yang kita inginkan,
Namun, bagaimana kita menjaga sesuatu itu,
adalah yang terpenting...
Bisa jadi itu adalah sebuah cobaan,karena Allah ingin tau bagaimana cara kita bersyukur..^^
Senin, 19 Desember 2011
Renungan...
Banyak yang terjadi sepanjang hidupku. Terkadang semuanya berlalu begitu saja hingga aku tak sempat untuk memikirkan yang lain. Kadang berlalu begitu lambat seakan waktu bergulir seperti buliran pasir dalam botol sempit penghitung waktu.
Semua itu terlewatkan begitu saja. Senang, sedih, tertawa, menangis, terkagum, terjatuh...
Saat terdiam, sendiri, sempat kurenungkan apa-apa yang kualami. Merenung bukan hal yang membuang waktu, kurasa, merenung membuatmu bisa menemukan sesuatu yang kadang engkau lewatkan. Sesuatu yang tak kau sadari yang telah kau miliki.
Saat itu aku merasa amat bersyukur atas orang-orang yang Tuhan hadiahkan padaku. Yang ketika mereka tertawa adalah hal terindah bagiku. Mereka keluargaku.
Yang masih akan menganggapku walaupun semua mengacuhkanku. Yang akan menemaniku ketika aku terhempas ke dunia sepi. Yang akan menghapus air mataku ketika tak ada lagi yang peduli.
Mereka...Yang namanya selalu tak lupa terselip dalam doaku. Ketika hanya ada waktu antara aku dengan-Nya, ketika yang kupikirakan hanyalah kebahagiaan mereka.
Tuhan punya rencana rahasia untukku. Aku tahu itu. Ketika ku temukan diriku di depan cermin, diriku yang bahagia. Tersenyum aku memandang bayangan itu. Sosok yang tak sempurna. Yang masih suka mengeluh hanya karena waktu. Dan masih suka terlalu mementingkan hal tak masuk akal.Namun, Ya Tuhan, dari mana harus kulukiskan syukur itu padaMu. Ketika bercermin, aku merasa Kau mengawasiku dan selalu menjagaku.
Dari mana aku harus memulai melukiskan syukur pada-Mu, Tuhan?
Mungkin, aku harus mulai dari mereka. Ya, orang-orang yang kau hadiahkan untukku itu. Izinkan aku mulai dari mereka. Akan aku lukiskan bahagia di hidup mereka, ku coba tuk tak mengecewakan mereka. Keluargaku...
Langganan:
Postingan (Atom)
